Orang Hidup Pasti Punya Masalah

Saya yakin ada penjelasan yang masuk akal mengapa saat-saat sulit itu datang. Ini bukan hanya kesulitan yang disebabkan oleh keteledoran kita tapi juga kesulitan yang datang murni akibat kesialan.

Bisa karena kondisi psikologis kita, turunnya stamina berpikir, beban kerja yang memecah konsentrasi, dan lain-lain.

Tapi, memahami alasan mengapa masalah-masalah itu datang tentu menyita perhatian. Merespon masalah itu dan berusaha menyelesaikannya saja sudah jadi beban tersendiri, apalagi harus memikirkan alasan kedatangannya.

Kalau bukan gabut, apa namanya?

Yang pasti, begitu quote yang pernah saya baca, masalah itu seperti angin kencang. Gak semua datang untuk mengacaukan hidup, ada juga yang datang untuk membersihkan jalan kita.

Advertisements

Semoga Masih Ada Waktu

Setelah menikah, saya belajar satu hal. Di antaranya, mencintai itu gak melulu tentang ucapan “I love you”. Kadang, melakukan perbuatan-perbuatan kecil untuk istri jauh lebih nyaring dibanding sekadar menyatakan bahwa saya mencintainya.

Kalau saya ingat-ingat, entah kapan terakhir kali saya mengatakan “I love you”. Lupa. Dulu, saya pikir itu semacam “declaration of truth”, belakangan saya malu kalau harus mengucapkannya. Gak tahu kalau istri saya.

Menurut saya, cinta lebih tulus jika diungkapkan dengan melakukan sesuatu. Entah menggantung bajunya yang belum sempat ia rapikan, memasangkan kaus kakinya saat mau keluar rumah, atau sekadar membantunya meraih bantal saat hendak tidur.

Saya bisa melakukan hal-hal kecil itu. Kapan pun dia mau. Sebab, saya tahu saya belum bisa melakukan hal besar. Semoga masih banyak waktu untuk belajar.

Bingung

Tuhan sering kita sebut bertahta di atas langit. Tapi pada saat yang sama, kita meyakininya dekat dengan diri kita. “Aqrobu min hablil wariid,” dalam ungkapan orang Arab, yang artinya lebih dekat dibandingkan urat leher.

Menurut saya, ini mbingungi. Di atas langit itu jauh lho, apalagi langit ‘kan sebutan untuk batas kemampuan mata kita melihat angkasa. Dengan kata lain, Tuhan itu berada di tempat yang jauhnya gak ketulungan, di luar jangkauan kita sebagai manusia.

Entah kenapa, kita cenderung menganggap Tuhan ada di atas, di tempat yang tinggi, dan karenanya jauh. Mungkin itu tempat untuk mengasosiasikan betapa mulia dan luhurnya Tuhan. Tapi, anggapan ini membuat kita mengira-Nya sebagai sosok yang perlu dicari, diteriaki, dan pada saat yang sama disepelekan; karena jauhnya itu.

Kita kurang suka menganggapnya dekat. Padahal, sering ustadz-ustadz berkata kalau Tuhan itu selalu menemani kita. Laa takhof, innallooha ma’anaa (Jangan takut, Allah bersama kita!) atau laa tahzan, innallooha ma’anaa (Jangan bersedih, Allah bersama kita!).

Mungkin karena itu menuntut pemahaman filosofis yang rumit. Mungkin juga karena itu membuat kita merasa diawasi, dimata-matai, dipergoki, dan perasaan lain yang menunjukkan bahwa kita insecure.

Jakarta

“Aku kadang bosan hidup di Jakarta,” ujarku pada Ramadan, sahabat lama yang setia menemaniku berbincang dan kadang berbagi keluhan.

Sudah beberapa menit sejak kami duduk di kedai itu kata-kata tersebut aku tahan. Khawatir merusak pagi harinya.

Ramadan terdiam lama. Matanya menerawang ke pucuk-pucuk bangunan tua di seberang jalan.

Ketika pelayan mengantarkan kopi hitam pesanan kami, tatapannya beralih pada seorang gadis yang duduk di sudut ruangan. Rambutnya yang legam ia ikat ala kadarnya ke belakang, menyisakan beberapa helai yang menjuntai di pipinya.

“Indah.” Ramadan meliriknya sambil tersenyum. Meski usianya sudah kepala enam, tak jarang kata-kata seperti itu meluncur dari mulutnya.

“Hmm…” Aku mengiyakan. “Tapi, aku lebih suka buku yang sedang ia baca.”

Ramadan beralih menatapku, dan setelah beberapa saat memerhatikan pengunjung yang lalu-lalang di pintu kedai itu, ia berkata, “Kau masih belum mengerti juga rupanya … ”

“Maksudmu?”

“Cobalah sesekali memperlakukan keindahan dengan terhormat. Keindahan bukan hanya paras yang cantik tapi sebuah hubungan; hubungan antara kecantikan itu sendiri dengan segala yang ada di sekitarnya: ruang, warna, gerak, dan momentum …

Kadang gadis cantik terlihat biasa-biasa saja hanya karena ia berada di tempat dan waktu yang tak tepat. Kau mungkin tahu dia cantik tapi kau sendiri mungkin enggan bahkan untuk sekadar meliriknya.”

“Terserah. Tapi, dia memang cantik,” ujarku, tak sabar.

“Kekagumanmu pada kecantikan gadis itu akan menguap andai kau tahu seperti apa parasnya tiga puluh tahun dari sekarang.

Keindahan yang sedang kubicarakan bertahan lebih lama. Ia memang akan menua, tapi keindahan itu tetap di sana, bersamanya. Segala yang ada di sekitarnya seperti mempunyai cara untuk memancarkan keindahan itu.

Dalam ruang, warna, gerak, dan momentum.”

Aku menarik napas dalam-dalam.

“Dan, mungkin seperti itu juga seharusnya kau melihat Jakarta. Ia bukan hanya sebuah kota tapi juga ruang … ”

“Warna, gerak, dan momentum. Kau mulai berfilsafat lagi?” sergahku.

Ramadan tertawa …

Sabtu Sore, di Suatu Tempat

Kau pernah bermimpi menjadi teleporter?

Aku baru saja selesai menonton About Time, sebuah film tentang para penjelajah waktu yang meski jalan ceritanya flat seperti layar televisiku tapi lumayan berguna untuk mengisi waktu luangku. Ya, ya … malam minggu yang sama dan hiburan yang itu-itu saja.

Seandainya aku seorang teleporter, aku mungkin tak pernah melewatkan satu hari pun dalam hidup tanpa berkunjung ke masa yang berbeda. Bisa masa lalu, bisa pula masa depan. Sesuai keinginanku. Aku juga akan pergi ke tempat-tempat impianku. Madinah, Kordoba, Kasablanka, dan Ann Arbor.

Setiap Sabtu sore, ini waktu favoritku, aku akan menghilang dan muncul di salah satu sudut kota London. Aku akan mencari sebuah kafe yang sepi dan mengambil tempat di dekat jendela. Dua sampai tiga jam berikutnya akan kuhabiskan untuk membaca cerpen-cerpen Anton Chekhov atau Guy de Maupassant.

Aku belum pernah ke London. Tapi, aku harap tempat yang kupilih itu tak keliru. Membaca cerpen di sebuah kafe tua ditemani secangkir kopi dan alunan In A Manner of Speaking-nya Nouvelle Vogue pasti menyenangkan. Apalagi jika sinar matahari sore menabrak kaca jendela dan menimpa wajahku.

Ketika senja datang, aku harap cerpen-cerpen yang kubawa sudah selesai kubaca. Sehingga, menit-menit berikutnya bisa kuhabiskan untuk memerhatikan keramaian yang tengah berlangsung di sekitarku. Kau tahu, kadang aku merasa berdiam diri di tengah keriuhan yang sedang terjadi itu magical.

Masa lalu menyimpan penjelasan yang masuk akal tentang masalah yang sedang kau hadapi saat ini, sementara masa depan punya segudang jawaban bagi teka-teki yang sekarang ingin kau pecahkan. Kau bisa saja berkunjung ke masa-masa itu untuk menyelesaikan urusanmu. Tapi, mungkin lebih baik kau biarkan dirimu memahami semua itu seiring berjalannya waktu. Buat apa terburu-buru?

Nah, kau mau ikut? Tak perlu khawatir. Selesai dengan urusanmu, kau bisa kembali ke tempatmu saat ini. Kalau kau memutuskan untuk ikut, pegang erat tanganku dan pejamkan matamu. Jangan bergerak sampai hitunganku mencapai angka sepuluh!

Kau siap?

Satu, dua, tiga …

6 Juli 2014, 9.50

Masih Tentang Cinta

Bulan puasa tahun ini sepertinya tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Cuaca mendung, hujan di sore hari, dan kubangan air di jalan-jalan yang terkelupas aspalnya. Musim hujan harusnya sudah berakhir Maret lalu. Tapi, hingga kini, hujan masih enggan berhenti.

Aku dan Ramadan diam-diam memperhatikan sekumpulan anak yang sedang bermain petasan di seberang kedai kopi tempat kami biasa menghabiskan waktu. Sesekali ia tersenyum melihat tawa anak-anak itu pecah, lalu melempar pandang saat ada orang menangkap basah senyumannya yang tak diundang.

“Kau tahu … ” Aku mengawali percakapan setelah seorang pelayan mengantar kopi yang kami pesan, “anak-anak itu lebih bisa menikmati hidup daripada orang dewasa seperti kita.”

Ramadan hanya tersenyum. Bukan karena kata-kataku, tapi karena gelak tawa mereka.

“Masa kanak-kanak memang menyenangkan. Tapi, aku yakin tak ada orang yang tak ingin dewasa.” Ia mengimbangi kata-kataku, lalu meraih kopi pesanannya yang masih panas dan menyesapnya sekali.

“Apa maksudmu?” Aku tertantang dengan kalimatnya, “Tentu saja ada. Seandainya bisa, aku ingin selamanya seperti mereka.”

“Semua orang akan bahagia dalam setiap fase hidupnya jika ia bisa melihat permata di dalamnya. Kau tak perlu melompat mundur ke masa lalu. Itu hanya menjauhkanmu dari permata-permata yang seharusnya bisa kau temukan di masa depan.”

Hampir tiga puluh tahun aku mengenal Ramadan. Kawan lama yang setia mengunjungiku setiap tahun itu memang tipikal orang tua yang bijak, termasuk dalam menyampaikan nasihat. Tapi, petuahnya kali ini entah mengapa terdengar seperti khutbah Jumat yang membosankan.

Tawa anak-anak di seberang semakin nyaring ketika salah seorang di antara mereka terkejut dengan petasan yang meletus di tangannya. Ramadan tertawa geli melihatnya. Ia tak mempedulikan pengunjung lain yang ikut terkejut oleh bunyi petasan itu.

“Saat masih seusiamu, aku juga berpikir begitu, sampai aku sadar bahwa anak-anak tak pernah memiliki perasaan yang memang hanya dimiliki oleh orang dewasa.”

“Perasaan apa?” Aku bertanya.

“Cinta,” jawabnya singkat.

“Kau mengajakku berbincang tentang masa lalumu yang suram? Tentang cinta-cintamu yang tak berbalas atau berakhir di tengah jalan?” Aku menggodanya.

“Beberapa kali aku merasakan manisnya cinta. Dan setiap kali jatuh cinta, aku sadar perasaan itu bisa saja hanya sementara –atau lebih buruk lagi, suatu saat menjelma kebencian. Tapi, seperti umumnya orang yang sedang dimabuk asmara, aku malas berpikir panjang. Kau masih muda. Kau pasti setuju denganku.”

Aku tergelak mendengar orang seusia Ramadan masih lihai bicara tentang cinta. “Kau pernah kecewa dengan cinta-cintamu?” Aku bertanya.

“Ya, beberapa kali.” Ia menjawab tanpa beban. Mungkin, karena semua tinggal kenangan.

“Tapi, jika saat menempuh suatu perjalanan kau berkali-kali jatuh, lalu sebanyak itu pula kau mengumpat batu, kerikil, jalan yang tidak rata, atau bahkan dirimu sendiri, itu artinya kau tak mendapat apa-apa dari perjalananmu,” lanjutnya.

“Maksudmu?”

“Ketika pertama kali menjalin hubungan dengan seorang gadis dan bertemu masalah demi masalah yang akhirnya membuat kami memutuskan untuk berpisah, aku merasa sangat kecewa. Namun, ketika aku jatuh cinta lagi, menjalin hubungan dengan gadis lain, dan kemudian berpisah, lagi dan lagi, aku sadar bahwa masalah sama dengan batu atau kerikil tajam yang aku temukan di tengah perjalanan.

“Bukan hal aneh jika ada batu di tengah jalan. Setiap orang yang melalui sebuah jalan pasti akan menemuinya. Jika awas, mereka selamat. Tapi kalaupun tidak, mereka tak perlu sampai meratapi nasib hanya karena tersandung sebuah batu. Yang perlu mereka lakukan hanyalah bangkit dan melanjutkan perjalanan.”

“Kau membandingkan kebahagiaan anak-anak itu dengan kesedihan akibat putus cinta?”

“Tidak, tidak … ” Ramadan tersenyum mendengar kesalahpahamanku.

“Aku membandingkannya dengan kebahagiaan orang yang bisa bangkit dari suatu masalah dan berhasil menyelamatkan cintanya –permata hidupnya.” Ia melanjutkan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya saat sedang berbincang dengannya, telingaku cukup sensitif jika sahabatku itu ingin menyampaikan sesuatu yang serius.

“Kebahagiaan anak-anak itu hanya sebentar, sebab mereka tidak benar-benar menyukai mainannya itu. Mereka bermain petasan karena semua orang bermain petasan.

“Itu berbeda dengan cinta. Kita tak perlu mencari-cari orang untuk kita cintai hanya karena orang-orang di sekeliling kita menjalin cinta dengan seseorang, atau berhenti mencintai seseorang karena tak seorang pun teman kita menjalin cinta dengan seseorang.

“Orang yang hidup bersama karena cinta akan selamanya bahagia. Mereka mungkin menemui banyak masalah yang membuat kecewa, marah, atau sedih. Tapi, jauh di dasar hati mereka, nyala kebahagiaan tak pernah padam. Hati mereka hanya sedang mengumpulkan energi untuk suatu saat mengubahnya menjadi nyala yang lebih terang.”

Aku terdiam dengan kata-kata sahabatku itu. Tak ada celah bagiku bahkan untuk menanggapinya.

Anak-anak yang kami bicarakan sudah pulang ke rumah mereka, mungkin karena malam yang semakin larut, mungkin pula karena petasan mereka sudah tak tersisa. Saat pelayan kedai menawarkan ekstra-kopi untuk kami, kami menolak.

Kami pikir, percakapan malam ini cukup sampai di sini.

Ciganjur, 1 Ramadan 1434 H

Hai, Ramadan!

Terima kasih mau menemuiku lagi.

Aku punya banyak cerita untukmu. Seperti tahun kemarin, aku harap kau ada waktu untuk duduk-duduk bersamaku; berbagi cerita tentang cinta, mimpi-mimpi, dan kenangan.

Aku sebenarnya ingin menulis cerita-ceritaku beberapa minggu yang lalu, saat momen-momen yang tepat menyapaku. Tapi, pekerjaan benar-benar tak menyisakan waktu untukku. Jangankan menulis cerita, mengganti celana dalam saja aku sering lupa.

Kau tahu, setahun ini aku mendapat banyak sekali pelajaran. Kalau aku bandingkan dengan sembilan tahun sebelumnya, setahun belakangan jauh lebih mendewasakan. Aku bersyukur. Itu artinya, aku menghemat sembilan tahun usia hidupku untuk mendapatkan pelajaran yang baru.

Satu tahun ini juga membawa banyak perubahan dalam diri orang-orang terdekatku. Teman akrabku di pesantren dulu, Rosydan, akhirnya menimang bidadari cantik setelah tujuh tahun menikah. Aku yang dulu ikut merasa kesepian setiap kali berkunjung ke rumahnya ikut bahagia.

Temanku yang lain, tandem bolos terbaik di kelas bahasa Arab dulu, Enjang, menikah bulan Agustus lalu. Saat datang di resepsi pernikahannya yang baru diadakan minggu lalu, aku lihat istrinya sedang hamil enam bulan. Anehnya, bukan hanya sang istri yang terlihat berbadan dua, tapi juga temanku itu! 😀

Kabar baik yang lain datang dari seorang teman kantor. Deffi, yang selama ini selalu menghasilkan desain keren untuk cover buku-buku yang aku dan teman-teman lain edit, memilih untuk lebih berkonsentrasi dengan usahanya. Ini sebenarnya menyedihkan. Saat kami sedang butuh-butuhnya desainer andal, kami justru kehilangan.

Tapi, kami mencoba melihat dari kacamata teman kami itu. Kesempatan untuk berkembang tak pernah datang dua kali. Karenanya, kapan pun itu, jika kesempatan tersebut menghampiri, kita harus mengambilnya. Akan ada risiko, tentu. Tapi, bukankah di situ menariknya hidup? 

Anyway, jangan mengira Deffi gadis cantik yang gemar bersolek; dia laki-laki tulen, brewok, dan sudah beranak dua!

Oh ya, hampir aku lupa. Keponakanku yang dulu biasa bermanja-manja kepada mama-papanya, kini sudah lebih bisa mandiri. Ia sekarang tinggal bersama om dan neneknya di Malang. Setelah beberapa bulan mogok sekolah, orangtuanya sepakat memboyong anak sulung mereka itu ke kotaku yang penuh kenangan.

Bagaimana dengan diriku? Selain motor bututku yang terus menua –ini yang beberapa minggu terakhir paling kurasakan dampaknya, tak ada yang banyak berubah.

Aku masih tinggal di kos yang sama, bekerja di kantor yang sama, dan mengetik di laptop yang sama. Tapi, ini yang aku sadari. Yang tak kusadari, aku tak tahu. Untuk beberapa hal dalam hidup, aku memang tak mau tahu.

Ramadan, seperti aku bilang, aku akan bercerita banyak kepadamu. Selama tiga puluh hari nanti, aku harap kau tak terburu-buru pergi.

Jika bukan sekarang, kapan lagi kita menghabiskan waktu bersama?

Kukusan-Ciganjur, 29 Sya’ban 1434 H

Apa yang Salah dengan Kita?

“Kalau kau mengira kita baik-baik saja, kau mungkin butuh waktu untuk berpikir lebih seksama.” Ramadan tampak kecewa dengan tanggapanku. Matanya melirik, lalu memalingkan wajah ke trotoar tempat orang berlalu-lalang.

“Coba perhatikan. Dua ulama di Iraq saling memaki di hadapan jamaah masing-masing. Sekelompok pemuda di Mesir mencegat dan mengancam arak-arakan pemuda lain yang akan berdemo. Kampanye sektarian menjadi trending topic di media sosial. Lalu, ibu-ibu pengajian menjadi malas ke masjid karena menonton infotainmen.”

“Bukankah itu soal biasa? Maksudku, kita sudah sering mendengar semua itu, kan?” Aku hati-hati bertanya. Kopi yang kupesan kubiarkan begitu saja di atas meja. Menunggu ampasnya mengendap sebelum menyesapnya tentu terasa lebih nikmat.

“Biasa? Kau pernah membayangkan akibat paling buruk dari semua itu? Seorang wanita Sunni di Najaf meratapi jenazah anaknya yang tinggal separuh karena menginjak ranjau yang ditanam oleh pemberontak Syi’ah. Di Kairo, sekelompok pemuda membakar hidup-hidup temannya sendiri karena mencurigainya sebagai mata-mata Ikhwanul Muslimin.

Akhir tahun lalu, sejumlah massa di Sampang membakar sebuah masjid karena dicurigai menyebarkan ajaran Syi’ah. Di komplek tempat tinggalku, majelis taklim ibu-ibu buyar gara-gara ada yang membicarakan gosip tentang seorang ustaz seleb sementara yang lainnya tak terima.”

“Wah, itu di luar pikiranku. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang salah dengan kita?”

“Itulah. Jangan-jangan selama ini kita merasa baik-baik saja. Orang-orang yang mengaku teman pun mengatakan kita tak sedang dalam masalah. Segala kemungkinan buruk seakan berdiri jauh dari tempat kita berpijak. Seolah ada laut lepas yang memisahkan kita dengannya. Padahal, diam-diam sel kanker sudah menyebar di tubuh kita dan terus menggerogotinya.”

“Maksudmu?” Aku tak paham dengan kata-kata Ramadan.

“Kebodohan adalah sel kanker yang menciptakan permusuhan di antara kita. Jika tak menyadarinya, apalagi jika kita merasa sehat dan imun darinya, penyakit itu akan cepat menyebar dan menggerogoti tubuh kita. Kalaupun tak mati, kita mungkin seperti mayat hidup yang bergantung pada berbagai macam obat.”

Ramadan menatap langit, lalu menumpukan pandangannya pada sebuah kubah masjid yang seluruh bangunannya nyaris tertutup ruko dan perkantoran.

“Kau lihat kubah masjid itu?”

Aku mengangguk. Sinar matahari yang menghantam permukaannya menciptakan warna keperakan yang menyilaukan mata.

“Bentuk kubah memang tak selalu sama. Kadang berbentuk limas, kadang berbentuk umbi bawang. Yang pasti, keduanya sama-sama memiliki puncak yang runcing. Ilmu dan kebijaksanaan itu luas, seperti dasar kubah yang lebar. Tapi, setiap tetes ilmu dan kebijaksanaan akan membawa kita pada satu realitas puncak: Allah Ta’ala.”

“Aku suka perumpamaanmu. Tapi …. terus terang aku masih bingung dengan semua yang kau bicarakan.”

Seperti biasa, aku ngos-ngosan mengikuti jalan pikiran sahabatku itu. Konflik sesama umat Islam, sel kanker, kebodohan, dan kubah masjid. Ini seperti sobekan-sobekan kertas yang tak beraturan, apalagi bermanfaat. Aku harap, kali ini Ramadan tak sedang membicarakan diriku. Berbincang dengan orang tua itu seperti berjalan di hutan yang penuh jebakan.

“Seandainya kita mengerti bahwa ilmu yang Allah turunkan ke dunia ini sangat banyak dan masing-masing bisa membuat mereka yang mempelajarinya tampak berbeda, api permusuhan tak akan pernah menyala. Sebab, kita juga akan memahami bahwa ilmu-ilmu tersebut akan mengantarkan kita pada kesimpulan yang sama tentang hakikat semesta raya.

“Seandainya pula kita tak sanggup memahami hal itu, selama kita tetap merendahkan hati dan mau terus dan terus belajar, pertikaian juga tak akan pernah terjadi. Orang yang rendah hati tak akan memandang dirinya yang paling benar, paling baik, atau paling suci. Sementara itu, orang dengan benih kesombongan di dalam dadanya akan cenderung merendahkan sesamanya.

“Manusia adalah makhluk mulia yang tercipta karena cinta dan kerinduan Sang Pencipta. Kalau Dia memuliakan mereka, bagaimana mungkin kita mengaku hamba-Nya jika pada saat yang sama kita merendahkan mereka? Tapi, aku kira kau mengerti, kesombongan memang musuh bebuyutan ilmu dan kebijaksanaan.”

Ramadan menutup kata-katanya sambil menyunggingkan senyum. Matanya masih menatap tajam. Tak lama, azan maghrib terdengar dari masjid yang terletak beberapa blok dari tempat kami berbincang. Semburat merah di ufuk barat mengingatkanku pada sisa waktu yang masih tersedia.

Ciganjur, 26 Juni 2014

Di Taman Kota

Aku mencari-cari kacamataku setelah tersentak dari tidur siangku.

Weker yang kuletakkan di atas meja tak berhenti berdering. Sekuat tenaga aku meraihnya dan mencari tombol pengatur untuk mematikannya. Cukup sulit ternyata menghentikan alarm dalam keadaan setengah sadar.

Sinar matahari yang menerobos melalui jendela kamarku berangsur redup. Aku ingat, sore itu aku ada janji bertemu Ramadan di taman kota.

Weker yang masih kupegang menunjukkan pukul dua siang. Aku punya waktu satu jam untuk mandi dan bersiap-siap. Untung jarak rumahku dan taman kota tak begitu jauh. Cukup berjalan kaki sepuluh menit, rimbun pepohonan taman itu sudah bisa kulihat.

Saat tiba di sana, kulihat Ramadan sedang bermain dengan sekawanan merpati. Tangan kirinya memegang kantong plastik berwarna hitam, tangan kanannya menebarkan biji jagung ke arah burung-burung itu. Senyumnya mengembang saat melihatku datang.

“Mereka menyukaimu,” ujarku, sembari mengambil duduk di sebelahnya.

“Ya, aku memberi mereka makanan,” jawabnya, sambil tetap tersenyum.

Suasana sore di taman kota tampak lebih riuh dari biasanya. Bulan puasa, tentu saja. Sore hari di bulan puasa memang waktu yang tepat untuk jalan-jalan menunggu azan Maghrib, mencari kue dan minuman pembuka, atau sekadar menikmati suasana.

Aku jadi teringat masa kecilku. Saat bulan puasa, taman kota adalah tempat paling indah untuk dikunjungi. Melewatkan waktu bersama Ayah sambil menanti kumandang azan, lalu bergabung dengan orang-orang yang tak kami kenal di masjid agung. Lumayan, kami bisa mendapatkan kurma dan minuman gratis di sana.

Ayah tak mengajarkanku untuk mengiba. Ia hanya ingin membuka mataku tentang betapa indah rumah Tuhan di bulan puasa: ketika kita menjadi bagian dari kerumunan orang yang tak saling kenal tapi tiba-tiba merasa akrab, melupakan keakuan dan melebur menjadi satu dengan orang banyak.

Hingga beberapa lama, Ramadan masih asyik dengan burung-burung merpati itu. Aku melayangkan pandang ke penjuru taman. Ini membuatku sedikit kesal. Saat semua pria di tempat itu menghabiskan sore dengan pasangan mereka, aku malah duduk bersama lelaki tua.

“Kau suka binatang?” Ramadan tiba-tiba bertanya.

“Aku lebih suka wanita cantik,” ujarku, sambil melirik dua gadis yang melintas di dekat kami.

“Wanita cantik hanya akan membuat matamu katarak. Kau bisa buta dengan kekurangan mereka. Kalau matamu tak lekas bisa melihatnya, kau akan terkejut saat tahu kau terlambat menyadarinya.”

“Kau mau aku menikah dengan gorila?” Ramadan tertawa, dan menjawab bahwa ia tak keberatan, kalau aku mau.

“Aku lega kau masih suka wanita,” ujarnya, meledek. “Tapi, kalau kau lihat seisi taman ini, kau akan mudah menemukan gadis lain yang tak kalah menarik.”

“Oh, ya?” balasku.

“Ya, tapi aku berani bertaruh. Pelan-pelan kau akan menyadari sesuatu di dalam diri mereka yang bisa membuatmu lupa dengan daya tarik yang membuat matamu katarak itu.”

Aku mendengus. Kawan lamaku itu terkekeh.

“Aku serius. Itu berbeda kalau kau hanya suka dengan seekor binatang. Merpati, misalnya. Kalau kau bisa melihat keindahan pada seekor merpati, kau juga akan bisa melihat kekurangannya. Itu karena kau tak mengagumi merpati seperti kau mengagumi seorang wanita.

“Kekaguman kita terhadap wanita sering membuat kita lupa daratan dan mengira mereka tak punya kekurangan. Celakanya, begitu sadar akan hal itu, kita akan berbalik membenci mereka.”

“Apa sesuatu dalam diri wanita yang bisa membuat kita lupa dengan daya tarik mereka?” tanyaku.

“Kau belum tahu?“

Aku menggeleng.

“Kemampuan mereka untuk membuat seorang laki-laki kecewa.”

Ah, kawanku memberi jawaban di luar perkiraan. Tapi, aku tahu, akan ada yang setuju dengan kata-katanya: sekumpulan laki-laki sial yang ditinggalkan oleh kekasihnya.

Aku sering mendengar kalimat semacam itu di film-film, novel, dan lirik lagu. Dari mulut kawanku itu, baru kali ini aku mendengarnya.

“Kau tak sedang teringat masa lalumu, kan?” Aku menggoda Ramadan.

Ia tersenyum. Sembari berdiri, tangan kanannya meraih kantong dan menebarkan genggaman jagung terakhirnya ke tanah. Kawanan merpati yang terbang kian kemari pun kembali mendekat dan mengerumuninya.

Untuk Anakku (2)

Assalamualaikum, Nak. Apa kabar? Terima kasih sudah meluangkan waktu, dan maaf kalau aku mengganggu istirahatmu. Aku janji, ini tak akan lama. Kau mungkin sudah sampai di baris terakhir surat ini sebelum terpikir untuk beranjak dari tempat dudukmu.

Sebelumnya, aku ingin sampaikan salam dari ibumu. Alhamdulillah, kami di rumah baik-baik saja. Semua sehat. Minggu lalu ibumu malah baru mendapat arisan di kelompok mengajinya. Keberuntungan yang aneh, sebab ia tak pernah terlihat mengharapkannya.

Apa kabar guru-gurumu? Semoga Allah selalu menjaga dan mencukupi kebutuhan mereka. Tolong sampaikan permintaan maafku. Sudah beberapa bulan ini aku belum juga menemukan waktu untuk mengunjungi mereka.

Akhir pekan kemarin sebenarnya ingin kami habiskan di Malang, setelah terlebih dulu singgah di Jogja. Meski tak bisa lama, kami ingin menemui guru-gurumu dan melihat keadaanmu. Sayangnya, rencana itu harus kami batalkan, karena suatu alasan.

Aku tak perlu menjelaskan. Kau sudah tahu, bukan?

Ada banyak yang ingin kulakukan di Malang. Terutama menjumpai teman-teman seperjuangan dulu. Sudah belasan tahun kami tak pernah bersua.

Hampir setiap hari aku ingat mereka. Orang-orang yang ada tak hanya saat aku senang tapi juga saat kesusahan. Aku tak sedang meromantisasi, sebab tentu saja mereka selalu ada, karena kami tinggal di tempat yang sama.

Satu kamar, satu kelas mengaji, satu kelas sekolah, satu kamar mandi. Satu tempat untuk semua. Dua puluh empat jam sehari, tiga tahun lamanya.

Sering saat membuka-buka catatan masa lalu, aku menemukan kenangan tentang mereka. Tentang satu atau dua nama yang membuatku tertegun, tersenyum, kadang juga menitikkan air mata.

Bagaimana kabar mereka sekarang?

***

Aku ingat, pernah saat mengaji aku marah pada teman-temanku.

Saat itu guruku menugaskanku untuk menemani mereka belajar. Kami disatukan ke dalam suatu kelompok. Dan tanggung jawabku adalah memastikan (ya, memastikan!) mereka memahami pelajaran.

Kau harus mengerti keadaanku saat itu, Nak. Aku marah, karena meski berkali-kali kujelaskan kembali pelajaran yang telah disampaikan oleh guruku, mereka tak juga paham.

Itu masalah, tentu. Kalau sampai guruku melempar pertanyaan pada mereka dan mereka tak bisa menjawab, aku yang akan kena hukuman.

Aku merasa dicurangi. Sebab dari lima orang temanku di kelompok tersebut, lima-limanya manusia ajaib. Maaf kalau aku bersikap kasar; mereka biang onar semua.

Kau tahu apa artinya? Artinya, dengan menjadi ketua kelompok, dijamin aku sering ketiban sial, karena kebebalan mereka.

Saat itu aku merasa guruku berlaku tidak adil padaku …

***

Bertahun-tahun kemudian, setelah lama berpisah dengan guru dan teman-temanku, aku baru mengerti. Bahwa menemani mereka di ‘grup neraka’ itu ternyata membawa pemahaman yang sepenuhnya baru dalam hidupku.

Bukan hanya bagaimana membantu mereka memahami pelajaran, tapi yang jauh lebih penting adalah membuatku tergerak untuk mengerti, merasakan, dan terlibat dalam pengalaman ‘menjadi’ diri mereka.

Dan pelan-pelan, aku sampai pada sebuah sudut pandang.

Kelak setelah lulus dari pesantren dan bergaul dengan bermacam-macam orang, aku sangat berterima kasih karena pengalaman ini. Dan kepada guru yang telah memasukkanku ke dalam situasi serba tak nyaman itu, aku benar-benar berutang budi.

Menemani mereka di kelompok itu adalah sebuah latihan menempatkan diri. Latihan menghadapi orang. Latihan sabar dan telaten. Latihan berlaku bijak dan tawadhu’.

Latihan memberi manfaat pada sesama.

Apa pun keadaannya.

Aku pun kemudian sadar. Bahwa pandai dalam pelajaran ternyata bukan segala-galanya. Itu mungkin bawaan seseorang sehingga ia mudah menangkap penjelasan gurunya. Di pesantren, seperti kata kyaiku, itu nomor 27. Yang jauh lebih penting dari itu adalah adab. Bagaimana sikap yang baik terhadap gurumu, temanmu, benda-benda di sekitarmu.

Selama itu aku ternyata salah paham. Merasa lebih hebat dari teman-temanku, hanya karena mudah memahami pelajaran dan piawai menjelaskan ulang.

Aku menyesal. Sebab, mereka yang lebih santun tutur katanya dan lebih sopan tindak-tanduknya sangat mungkin lebih bermanfaat dan berkah ilmunya.

Nanti, Anakku, kalau gurumu memberikan tugas padamu, laksanakanlah dengan riang-gembira. Jangan hanya taati, tapi nikmati. Nikmatilah tugas itu seakan kau tahu kebaikan apa yang akan kau terima setelah melaksanakannya.

Aku mengirimmu ke tempat yang jauh bukan agar kau pandai dalam pelajaranmu. Bukan agar kau piawai memuntahkan dalil-dalil. Aku ingin, Anakku, kau memungut lembar demi lembar keberkahan dari orang-orang alim dan ikhlas yang ada di sekitarmu.

Nah, Nak, sampai di sini dulu perbincangan kita. Kapan-kapan, jika aku belum juga punya waktu untuk mengunjungimu, surat yang lain akan kukirimkan untukmu.

Tamu-tamuku sudah menunggu.

Ingat, hormati gurumu. Kalau kau tak bisa menyenangkan hati mereka, setidaknya jangan membuat mereka marah padamu.

Salam.